Cerpen: Selendang Harapan
Sebuah Cerpen

By Admin Atsar 08 Agu 2020, 12:07:12 WIB Buletin Atsar
Cerpen: Selendang Harapan

           Langit telah berganti warna dan matahari pun akhirnya terbenam. Seisi kampung mulai dihiasi gemerlapnya lampu dan jalanan ramai dengan warga yang seakan digiring oleh suara adzan yang berkumandang. Tak ketinggalan pula gerombolan anak-anak yang berlarian dalam keramaian dengan juz amma dalam dekapannya. Aku pun sudah tak betah lagi berdiam diri di rumah, kugesitkan langkah menuju rumah allah untuk menunaikan sholat jama’ah. Selepas jama’ah kegiatan mengaji pun mulai bergema di majlis dengan begitu semangatnya, tampak sekali suara mereka menembus jagad angkasa raya.

Sehabis jama’ah sholat isya dan berdzikir mengingat sang khalik, kami pun berduyun-duyun pulang menuju rumah masing-masing dan tentunya pekerjaan di rumah sudah menunggu penghuninya datang. Di dalam sunyinya jalanan tiba-tiba teriak suara dari teman sebayaku terdegar.

“Bachtiaarrr…” teriaknya dari kejauhan.

Sontak suara tersebut membuatku kaget dan menoleh kebelakang, dengan bantuan lampu jalanan akhirnya aku pun tahu sosok dibalik suara itu.

“Ada apa, Rul?” tanyaku singkat.

“Bagaimana, Bah? Kau jadi ikut?” jawabnya balik bertanya.

“Hmm…, entahlah, Rul. Belum bisa kuputuskan. Coba nanti aku tanyakan dulu pada orangtuaku sekalian meminta restu.”

“Ouh, baiklah. Semoga hasilnya yang terbaik yah.”

“Iyah. Kau sendiri bagaimana?”

“Aku sih tergantung kau saja, Bah.”

“Walah, kau itu kebiasaan, Rul. Ndak ada pendirian. Kalau Cuma tergantung aku nanti kukeraskan ikatannya, kalau kecekik biar tau rasa kau.”

“Hehehe…, tenang saja, Bah. Temanmu ini anak Perguruan Tjo Ca Fang. Jadi sudah kebal sama begituan.”

“Yoweslah. Karepmu, Rul! Aku pulang dulu yah. Sampai jumpa besok di sekolah.”

Kami pun berpisah, berjalan menelusuri suluh terang jalan menuju rumah kami masing-masing. Sesampainya di rumah, perutku yang sudah mulai keroncongan meluapkan semangat nafsu makan yang menggebu-gebu hingga nylonong masuk saja ke rumah.

“Masak apa, Bu?” teriakku mengagetkan.

Astaghfirullah…, Bachtiar anakku. Mbok salam dulu to. Masuk rumah kok kayak masuk kandang ayam. Ndak ada tata kramanya gitu. Buat Ibu kaget saja,” ucap ibuku sambil mengangkat wajan dan menuangkan masakan ke piring.

“Hehe… Ngapunten nggeh, Bu. Masakan Ibu kan kalau udah kecium bikin perut orang lapar seperti sebulan belum makan,” ujarku.

“Yowes yowes. Udah sana ganti pakaian dulu nanti baru makan.”

“Sendiko dawuh, Kanjeng Ratu.”

Di atas meja makan, aneka jenis masakan sudah tertata rapi bak armada pasukan yang siap berperang. Tanpa menyianyiakannya, aku santap semuanya dengan handal dan instan. Setelah nafsu makanku terpenuhi, aku pun segera menyampaikan ajakan Zahrul tadi. Sayang, ayahku sedang pergi mengurus bisnisnya di luar kota. Jadi di meja makan aku hanya ditemani ibu dan adik kecilku.

“Bu...,” ujarku.

“Ada apa to, Le? Kok kelihatannya kayak lagi gunda begitu, kenapa? Diputusin pacarnya po?”

“Eh, Ibu ini ada ada aja. Ndaklah, Bu. Mana mungkin aku berurusan sama begituan. Aku kan masih pelajar. Prioritasku yah belajar, Bu.’

“Hehe… Lah terus kenapa to, Cah Bagus?”

“Begini, Bu. Tadi di sekolah, Zahrul mengajakku daftar tes beasiswa keluar negri. Menurut Ibu bagaimana?”

“Ya, bagus kalau gitu. Katanya kamu punya cita-cita mau melihat luasnya ciptaan Allah. Itukan bisa dijadikan awalan yang bagus untuk meraih cita-cita mu to, Le.”

“La terus gimana, Bu?”

“Gimana apanya to, Le?

“Menurut Ibu aku bisa lolos ndak?”

“Eh, Ya Allah, Nak. Kamu itu gimana to? Dalam meraih harapan jangan memikirkan akibat. Untuk urusan akibat pasrahkan sama Gusti Allah, Le. Ingat, di dalam Al-Qur’an kan sudah dijelaskan, bahwasanya Allah tidak akan merubah suatu kaum sampai kaum tersebut mau merubah nasibnya sendiri, Le.”

“Hehe… Oh iya, Bu. Tapi Ibu ngerestui kan?”

“500 persen ngrestui, Le.”

Alhamdulillah. Maturnuwun, Bu. Nyuwun Pandongane nggeh, Bu.”

“Iyo, Le. Semangat-semangat.”

Matahari mulai terlihat di ufuk timur. Ditemani cahaya jingga cerlang, membuat mata tak henti memuji keagungan Sang Penciptanya. Aku pun bergegas menuju sekolah ditemani motor klasik tahun 70-an kegemaranku. Warna putih dipadu dengan hijau telur asin membuat motor ini terlihat lebih elegan. Walaupun banyak yang menganggap jadul atau lainnya, tetap saja motor ini menjadi kesukaanku karena selain antik, motor ini  juga bernilai historis bagiku sebab motor ini merupakan peninggalan kakekku. Konon katanya sewaktu masih dipakai kakekku, motor ini begitu kramat saking kramatnya bisa menangkal jin atau sebangsanya. Walaupun jaman sekarang sudah banyak yang menghiraukannya, namun bagiku motor ini berharga bukan karena kramatnya, melainkan saat kakek memberikannya kepadaku, beliau menuturkan kalau motor ini hanya dipasrahkan kepada orang pilahan yaitu cucu yang paling beliau sayangi. Mungkin itulah alasan yang mendoktrin diriku untuk sangat menyayangi dan merawatnya dengan baik.

Sesampainya di sekolah. Aku pun menyampaikan hasil rapat paripurnaku dengan ibu kepada Zahrul dan kami pun sepakat nanti pulang bareng untuk mendaftar beasiswa itu bersama. Di jalan pulang, Zahrul memberitahuiku bahwa pendaftaran itu lewat online dan bagaimana prosedur pendaftarannya. Setelah persyaratan pendaftaran sudah beres, kini beban kami hanyalah satu yakni menyiapkan diri untuk menghadapi tes beasiswa tersebut. Dan ternyata tes ini dibagi menjadi tiga tahap, tahap pertama tentang pengetahuan dan kecakapan umum serta psikologis, tahap kedua mengenai kecakapan bahasa, kedua tes ini diselenggarakan di universitas terbaik kotaku, dan tahapan tes terakhir adalah tes yang menjadi poin penting dalam penentuan beasiswa yang diselenggarakan di ibu kota provinsi kami, Semarang. Jaraknya sekitar 150 km dari tempat tinggalku yaitu Pekalongan.

Aku pun tak main-main dalam belajar. Kukerahkan semua tenaga dan pikiranku untuk memujudkan impianku. Kuburu semua buku pengetahuan  yang ada di perpustakaan, tak hanya perpustakaan sekolah, namun perpustakaan daerah pun kulahap, bak pengelana yang menemukan oasis di padang pasir yang gersang. Tak ketinggalan ikhtiar kebatinan pun aku amalkan. Kata orang dahulu, akan kurang mujarab kalau kepingin sukses tapi tidak  tirakat, karena itu aku mulai melanggengkan qiyamul lail, sholat dhuha, dan puasa senin kamis seperti dulu yang kulakukan di pondok semasa bangku tsanawiyah.

Sampai waktu tes itu tiba, aku pun sudah siap lahir batin. Aku kecup kedua tangan orangtua seraya meminta restu dari mereka, karena dalam sebuah hadis disampaikan bahwa ”Ridho Allah tergantung dengan ridho orang tua,” jika orangtua telah ridho kepadaku maka insyaallah ridho Allah senantiasa menyertaiku, sehingga soal-soal yang nanti akan aku hadapi akan mudah terkalahkan. Masih mengendarai motor klasikku, aku menuju tempat tes bersama Zahrul, kebetulan kami satu ruangan. Dihadapan komputer, terlebih dahulu aku berdoa mengharap kemudahan dari-Nya. Setelahnya soal dipaparkan dengan teliti kulibas semuanya habis-habisan. Alhamdulillah semua berjalan lancer, walau ada beberapa soal yang cukup menguras pikaran dengan tajam, namun selepas itu kupasrahkan hasilnya kepada Allah. Dan dengan optimisme tinggi aku keluar ruangan layaknya perwira kembali dari medan perang dengan seutas kemenangan. Rupanya hal yang kurasakan juga terlihat pada Zahrul, ia keluar dengan elegan dan tenang seraya mengacungkan jempol padaku sebagai kode bahwa soal tadi bisa ia libas dan yakin akan memperolah kemenangan.

Seminggu setelah tes pun cepat berlalu. Doa-doa tak lupa kuucapkan setiap waktu. Dan hari ini adalah hari pengumuman hasil tes lalu. Alhamdulillah, Allah masih menghendakiku untuk melanjukan ke tahap selanjutnya. Dan dari ekspresi yang diperlihatkan Zahrul kemungkinan besar sama denganku.

“Bagaimana hasilmu, Rul? Kok senyum-senyum sendiri gitu,” ujarku menyambut kedatangan Zahrul.

“Hehe…, Alhamdulillah lampu hijau, Bah. Kau sendiri bagaimana?”

“Sama denganmu. Untuk tes kedua, bagaimana menurutmu?”

“Entahlah, Bah. Aku juga bingung mengenai tes nanti. Sejujurnya aku kurang menguasai bahasa Inggris.”

“Ya, memang sih. Kayaknya kita perlu bersatu untuk menghadapinya dan alangkah baiknya jika kita ada pembimbingnya.”

“Pembimbing? Memangnya siapa yang mau?”

“Menurutku siapa lagi kalau bukan guru bahasa inggris tercinta kita, Rul.”

“Pak Eko maksudmu? Mana mungkin beliau mau membimbing kita?”

“Yah, kalau belum dicobakan ndak tau hasilnya, Rul. Udahlah, nanti aku yang atur, jiwa nekadku ini sudah mendorong diriku untuk mencoba sesuatu hal yang mungkin menguntungkan walau kesempatannya tipis.”

“Okelah, aku manut saja.”

Sepulang sekolah kami pun langsung menemui Pak Eko di ruang guru dan kebetulan beliau belum pulang. Langsung saja aku menyampaikan maksud kedatanganku untuk meminta pendalaman bahasa Inggris.

“Pak Eko! Boleh ndak kita berdua minta jam tambahan bahasa Inggris untuk beberapa hari mendatang?”

“Heh? Saya ndak salah denger nih. Tumben ada siswa yang minta tambahan, bukannya jam tambahan dari sekolah saja sudah bikin kalian badmood? Lagian ujian masih lama?” jawab guru berkacamata itu dengan logat khasnya seakan ia tak percaya dengan tawaranku.

“Iya, Pak, kita serius. Sebenarnya bukan untuk ujian, melainkan untuk tes kebahasaan yang diadakan oleh Dinas Pendidikan yang telah membuka beasiswa kuliah pak. Dan bagi yang lolos, nantinya bisa berkesempatan kuliah di luar negri pak. Mau ya, Pak, please. Tesnya tiga minggu lagi nih, Pak.”

“Ouh, begitu to. Baiklah boleh saja. Saya bersedia memberi pendalaman kepada kalian, tapi dengan satu syarat?”

“Kok ada syaratnya sih, Pak.”

“Kalau gak mau ya gapapa. Toh sayanya gak rugi.”

“Mau kok, Pak. Syaratnya apa, Pak? Kami siap kok, iya kan, Rul?”

“Iya, Pak, kami siap. Bahkan kami siap untuk mengorbankan jiwa raga kami, asal Bapak bersedia membimbing kami,” celetuk Zahrul. Terlihat sekali ia sangat bersemangat.

“Nah, begitu dong. Jadi anak muda itu harus energik dan penuh semangat, kan enak dipandang kalau gini. Syaratnya mudah kok. Kalian cuma harus ulet, rajin, dan jangan mudah menyerah bila dihadapkan materi nanti, serta kalian harus kritis.”

“Siap 86, Pak,” ujar kami serempak.

Mulai hari esok sampai hari-hari menjelang tes berlangsung, kami berdua digembleng mati-matian oleh Pak Eko, dengan keterbatasan waktu yang dimiliki beliau bisa mengajarkan materi-materi yang kami butuhkan dan dengan kekuatan ekstra pula kami mencoba untuk memahami semua materi yang telah diajarkan oleh Pak Eko beserta tips dalam mengerjakan soal agar tidak membuang waktu banyak. Hingga saat yang ditunggu telah tiba, masih dengan tempat, ruang, dan komputer yang sama, namun dengan soal yang berbeda dan tentunya lebih ganas hingga membuat otak kami seperti diremas. Sebelum berangkat tes, atas saran ibuku aku menyempatkan diri untuk meminta doa dari guru serta kiaiku yang ada di desa. Kata ibu mereka juga bagian dari orangtuaku karena berkat mereka pengetahuanku terbuka. Jadi, sudah menjadi kewajibanku untuk menghormati mereka.

Usai mengerjakan soal, tak ada yang bisa kulakukan selain pasrah kepada Yang Mahakuasa. Optimisme selangit saat memasuki ruangan berubah menjadi terjun ke jurang kepasrahan. Diriku hanya bisa memohon kepada-Nya agar diberi jalan yang terbaik, karena sehebat apapun makhluk membuat sebab tetap saja yang menentukan akibat adalah Dia Yang Mahakuasa, Dialah dzat musabbiul asbab, Allah swt., yang tak terlepas dari kebijaksanaan-Nya. Kendati berhasil lolos ataupun tereleminasi, sampai disini aku yakin bahwa Allah telah mennyiapkan yang terbaik bagiku yang mungkin akan mengejutkan dengan skenario-Nya yang menakjubkan.

Hasil tes kedua akhirnya diumumkan. Dan puji syukur kehadirat Allah, keberuntungan masih setia menyertaiku. Allah masih menghendaki diriku untuk ikut serta membuktikan kelayakan diri untuk bisa mencoba tholabul ilmi ke negri orang, negri yang sama sekali belum pernah kulihat secara hakiki, hanya pernah kudengar kemegahannya lewat gambar yang tersebar dijejaring sosial.

“Bagaimana hasilmu, Bah?” ujar Zahrul mengagetkanku.

Alhamdulillah, rahmat Allah masih menyertaiku pada perjuangan kali ini, hasilnya masih lampu hijau, Rul,” jawabku.

Dengan wajah lesu dan sedikit merengut kelihatannya hasil yang dicapai dirinya berbanding terbalik dengan yang kuperoleh.

“Kau sendiri bagaimana, Rul?” tanyaku padanya.

“Hmm…, mungkin Allah tidak menghendakiku kuliah keluar negri bersamamu, Bah,” jawabnya dengan putus asa.

“Tetap semangat yah, Rul. Ingat kegagalan bukanlah batasan perjuangan, namun harus membuat dirimu untuk bersemangat lagi. Mungkin Allah sedang menyiapkan suatu yang lebih baik dari ini.”

Maybe…, tapi kayaknya ndak, Bah,” dengan lesu ia menjawab.

“Tapi apa, Rul? Kau percaya Allah Al-Hakim to?”

“Yha, kalau itu sepenuh hati dong, Bah, edan po aku ndak mengimani sifat-sifat Asmaul husna Allah,” jawabnya ketus.

“Lha terus kenapa dirimu masih meragukan kebijaksanaan-Nya? Allah telah mengatur rejeki dan nasib setiap makhluk, Rul. Bahkan disaat titik terendah harapan makhluk untuk kembali bangkit Allah datang dengan perantara makhluk-Nya. Membawa mereka terbang dengan selendang harapan, sejengkal pun dari makhluk-Nya tak terlupakan. Kau tau kisah Ibrahim bin Adham?”

“Kisah apa itu, Bah? Apa hubungannya dengan nasibku?”

“Hmm… begini kisahnya, Rul. Dengarkan baik-baik setelah itu kau pikir saja apa hubungan kisah ini dengan nasibmu. Di dalam Kitab Al Mawaid Ushfuriyah, Syekh Muhammad ibn Abu Bakar bercerita, bahwasanya ada seorang pemuda sedang berkelana. Saat memasuki sebuah hutan, ia beristirahat dihutan tersebut, nama pemuda tersebut Ibrahim bin Adham. Saat membuka bekalnya tiba-tiba seekor burung gagak mengambil sebagian roti yang dibawanya, karena penasaran akhirnnya Ibrahim mengikuti terbangnya gagak tersebut. Alangkah kagetnya ia tatkala gagak itu berhenti dibalik sebuah batu besar, ketika ia mencoba melihat apa yang ada dibalik batu besar itu, ia menyaksikan sebuah kejadian menakjubkan di depannya. Burung gagak itu sedang menyuapi seorang pemuda yang terikat dibatu besar itu. Dengan membawa seribu keheranan dibenaknya, ia pun menyelamatkan pemuda tersebut dan menanyakan perihal apa yang terjadi padanya. Ternyata pemuda tersebut adalah korban perampokan, ia dibuang dan diikat dibatu ini. Sudah seminggu lamanya ia berada disini bahkan ia telah berputus asa tak ada seorang pun yang akan menyelamatkannya, namun disaat ia merasa lapar dan mengadu kepada tuhan, seekor gagak datang dan menyuapinya makanan terus menerus selama seminggu sampai ia tak merasa lapar lagi. Ia menyatakan dengan penuh keyakinan dan kekaguman bahwasanya sedikitpun Allah tidak pernah meninggalkannya dari kelaparan, Allah telah mengatur seluruh kejadian yang terjadi di bumi ini. Rul, kau tak perlu ragu akan kehendak-Nya, yang perlu kau pikirkan sebenarnya bercermin pada dirimu sendiri, sudah pantaskah kau membantah kehendak-Nya?” ujarku.

“Heh? Baiklah, Bah. Terimakasih atas penjabaran yang sedikit menyirami kegersangan hatiku. Mungkin aku butuh waktu sendiri beberapa hari mendatang untuk mencoba berdamai dengan takdir yang ada.”

“Iyah, Rul. Semoga kau cepat ikhlas dengan segalanya.”

Senja telah menghilang. Digantikan dengan bintang yang mulai bermunculan dilangit malam dan dengan indahnya membentuk formasi yang memanjakan mata dan tak hentiknya membuat bibir ini selalu memuji dzat penciptanya. Bertemankan secangkir kopi, kuasingkan diri di gazebo belakang rumah seraya merenungkan segala permasalahan yang berhasil kulewati disela dinginnya angin yang datang.

Duhai Tuhan, alangkah beruntungnya manusia yang dapat merasakan nikmat-Nya disetiap derapan rukuk dan sujudnya. Saat mendengarkan dan membaca kisahnya, diri ini terasa hina, namun gelapnya nafsu yang merasuki jiwa tak kuasa untuk menirunya. Duhai Tuhanku, semoga diri ini terbesir hidayah-Mu hingga kuat iman, islam, serta ihsan menghadap-Mu. Terimakasih telah menghendaki jalanku sampai saat ini hingga mengantarkanku kembali melangkah berkompetisi pergi menjamah bumi ciptaan-Mu yang lain. Semoga rahmat-Mu senantiasa menyertai makhluk yang fana ini,” renungku dalam hati. Dering suara ponselku pun membuat diri ini berhenti dan beranjak pergi ke kamar untuk segera beristirahat.

Sinar matahari kembali menyinari bumi. Seorang yang saleh pernah mengatakan “Jika pagi datang, orang yang lalai akan berpikir apa yang harus dikerjakannya. Sedang orang yang berakal akan berpikir apa yang dilakukan Allah kepadanya,” kata-kata tersebut masih terdengung jelas ditelingaku hingga membuat diri ini tak henti-hentinya memanjatkan doa agar diberi kemudahan dalam menjalani aktifitas kehidupan biasanya. Tes terakhir akan dilaksanakan bulan depan. Semua sudah kusiapkan seperti tes-tes yang telah aku hadapi.

Hari berganti hari. Di siang bolong yang disesaki efek panas sinar matahari. Tiba-tiba Zahrul mendatangiku. Kelihatannya ia sudah rela dengan apa yang menimpanya.

“Bah! Perjalananmu nanti ke Semarang, gimana?”

“Belum tahu, Rul. Palingan nanti naik bus atau kereta.”

“Emangnya kau tahu seluk beluk Semarang?”

“Ya ndak tahu sih, tapi kan bisa diatur disana nanti.”

“Yakin ndak masalah? Gimana nanti aku temani?”

“Hah? Serius kau mau menemaniku?”

“Duarius, Bah, tapi ndak naik bus atau kereta.”

”Heh? Laterus mau naik apa? Sapu terbang gitu?” celetukku bercanda.

“Hush. Yha ndak sampe ngawur gitu juga kali, Bah. Nanti kita naik kuda besi tuamu.”

“Maksudmu motor itu?”

“Ya iyalah masak ya iya dong. Emang ada lagi yang lebih tua dari itu?”

“Jangan gila kau, Rul, beneran?”

“Ndak lah, Bah, malahan ini akan menjadi perjalanan yang akan mengesankan dirimu.”

“Yakin kau, Rul? Nanti malah akan jadi masalah.”

“Tenang saja, Bah, semuanya sudah kuatur.”

“Baiklah. La terus dirimu sendiri gimana sekarang?”

“Hehe, tenang saja, Bah. Selow bro… masih banyak jalan menuju Roma. Aku sudah daftar beasiswa lainnya.”

“Baguslah kalau gitu. Akhirnya kau bisa ikhlas dengan kehendak Allah.’

“Hehe, iya dong, Bah, edan pok aku ndak ikhlas. Lagian dalam proses perdamaian diriku, aku dapat kisah yang semakin menyakinkan diriku selepas kisah dari dirimu, Bah. Jadi gini, suatu ketika Shufyan Ats-Tsauri berdoa didepan Rabi’atul Adawiyah, “Ya Allah, ridhoilah kami,” mendengar doa tersebut Rabi’atul Adawiyah berkata, “Apakah engkau tak malu memohon ridho-Nya sedang kau sendiri belum ridho kepada-Nya,” kemudian Shufyan bertanya, “Astaghfirullah, kapankah seorang dinamai ridho kepada-Nya?” Robi’ah pun menjawab, “Kalau kegembiraannya memperoleh musibah sama dengan kegemberiannya ditimpa kenikmatan.”

“Lho, bagus kalau gitu, Rul. Semoga dites lain kau berhasil.”

“Iya, Bah. Semoga kau juga berjaya di Semarang.”

Waktu pun terus berputar  hingga tes tersebut sudah semakin datang. Sekarang diri ini sudah tak lagi memikirkan hasil yang kucapai nanti. Terlepas akan lolos maupun tidak, aku tetap akan berusaha semaksimal mungkin yang terbaik yang bisa kulakukan. Kupasrahkan semua selendang harapanku kepada tuhan yang Mahakuasa agar nantinya dapat menarikku ke atas mega awan keberhasilan. Walaupun sudah dua sepertiga selendang harapanku sudah dapat terajut dengan baik, tapi tak menutup kemungkinan aku berhenti ditengah jalan, jarum rajutku bisa saja sewaktu-waktu malah melukaiku. Maka dari itu kupasrahkan semua nasib jalan hidupku kepada Allah ‘Azza wajalla , tuhan yang menghendaki semua yang akan terjadi.

 

The End

Karya: Moh. Khizam Ali (X MAK)

Sumber: Buletin Atsar




Write a Facebook Comment

Komentar dari Facebook

View all comments

Write a comment