IBNU MALIK;
Sang ‘Alim Penuh Tawadlu’ dan Karya Ilmiah

By Admin Madrasah 23 Nov 2021, 10:46:08 WIB Dunia Islam
IBNU MALIK;

IBNU MALIK; Sang ‘Alim Penuh Tawadlu’ dan Karya Ilmiah

Oleh: H. M. Nurul Haq, Lc, M.Pd.I (Guru MA Salafiyah Simbang Kulon)

Setiap orang yang ingin tahu dan pernah belajar ilmu Nahwu (khususnya santri atau siswa-siswi MAS Simbangkulon), nama sang ulama’ besar imam Ibnu Malik sangatlah tidak asing ditelinganya. Karena hampir dipastikan mayoritas rujukan dalam belajar ilmu Nahwu akan mengacu pada karangan beliau yang sering dikenal dengan Alfiyah Ibnu Malik.

Dalam tulisan singkat ini, mari kita mencoba untuk menggali dan mengenal lebih jauh sang imam yang merupakan sosok mulia, penuh suri tauladan, kedalaman ilmu pengetahuan. Dengan harapan kita yang mengaku sebagai penerus dan santri beliau, mampu meniru dan ngalap berkah dari karangan beliau yang setiap hari atau setiap minggu kita mengkaji dan menghafalkannya. Selamat menikmati

  1. Biografi Ibnu Malik

Imam Ibnu Malik, nama lengkapnya adalah Muhammad bin Abdullah bin Malik al-Thay al-Andalusy, bergelar Jamaludin. Beliau lahir pada tahun 600 H di Jayyan. Daerah ini adalah sebuah kota kecil di bawah kekuasaan Andalusia (Spanyol). Pada saat itu, penduduk negeri ini sangat cinta kepada ilmu, dan mereka berpacu dalam menempuh pendidikan yang tinggi dan karang-mengarang buku-buku ilmiah.

Sebagaimana kebiasaan dan antusias penduduk Andalusia dalam keilmuan, Ibnu Malik pada masa kecilpun juga menuntut berbagai dasar-dasar keilmuan agama dan tata bahasa Arab di daerahnya, terutama sekali beliau belajar dan dididik oleh Syaikh Al-Syalabuni (w. 645 H). Setelah menginjak dewasa sebagaimana kebiasaan ulama zaman dahulu, beliaupun berangkat ke arah Timur untuk menunaikan ibadah haji, dan diteruskan menempuh ilmu di Damaskus Syiria/Suriah yang kala itu dikenal banyak ulama dan wali-wali Allah swt. Di sana Ibnu Malik belajar ilmu dari beberapa ulama setempat, antara lain adalah imam al-Sakhawi (w. 643 H). Setelah Ibnu Malik belajar banyak dari para ulama Damaskus, beliau berangkat lagi ke Aleppo kota utara Damaskus untuk belajar ilmu kepada para ulama disana yang antara lain adalah kepada Syaikh Ibn Ya’isy al-Halaby (w. 643 H) sang ulama ahli fikih dan nahwu. Semenjak menetap di Damaskus, Ibnu Malik beralih dari madzhab fiqh Malikiyyah selama hidup di Andalusia menjadi madzhab Syafi’iyyah karena dipandang lebih cocok dengan kondisi lingkungannya yang baru.

Setelah beliau banyak mengembara menuntut ilmu di dua kota ini, nama Ibnu Malik pun mulai dikenal dan dikagumi oleh para ilmuan, karena kecerdasan dan kejernihan pemikirannya. Ia banyak menampilkan teori-teori nahwu yang yang jarang diketahui oleh orang-orang Syiria waktu itu. Untuk menguatkan teorinya ini, Ibnu Malik sang sarjana besar kelahiran Eropa ini, senantiasa mengambil dalil (syahid) dari ayat-ayat al-Qur’an, Hadits dan juga sya’ir-sya’ir sastrawan Arab kenamaan. Semua pemikiran beliau ini banyak dituangkan dalam kitab-kitab karangannya yang berbentuk nazhom (syair puitis) atau berbentuk natsar (prosa). Teori nahwu semacam ini banyak diikuti oleh murid-muridnya, seperti imam Ibn al-Athar, al-Mizzi, al-Dzahabi, al-Shairafi, dan Ibn Jama’ah, al-Nawawi. Dan imam Nawawi merupakan salah satu murid kesayangan beliau yang disebutkan sebagai contoh dalam bab Ibtida’ ???? ?? ?????? ????? (dan telah ada sosok lelaki mulia disisi kami).

  1. Meneladani Akhlak Ibnu Malik

Karena begitu cintanya imam Ibnu Malik akan ilmu-ilmu allah, selain beliau ahli dalam bidang ilmu tata bahasa Arab (Nahwu-Sharaf) beliau juga ahli dalam ilmu qira’at al-Qur’an, tafsir dan hadist. Diceritakan bahwa beliau adalah kepala madrasah di daerah Damaskuk, sedang qodli dan muftinya pada saat itu adalah ibnu Kholkan, seorang ulama ahli sejarah yang ‘alim. Tapi ibnu Kholkan selalu ma’mum pada imam Ibnu Malik dalam setiap shalat jama’ah dan ketika Ibnu Malik hendak pulang ke rumah, Ibnu kholkan selalu mencium dan memegang tangan beliau untuk diantarkan sampai rumahnya. Itu semua dilakukan karena ta’dhim beliau pada imam Ibnu Malik.

Imam Ibnu Malik sangat terkenal dengan sifat wara’nya. Salah satunya dan mungkin yang harus kita contoh adalah, beliau tidak perna muthala’ah (belajar ilmu) dalam keadaan hadats. Beliau selalu belajar dan mengajar dalam keadaan suci dan menghadap qiblat. Ibnu Malik tidak pernah malu untuk mencari seseorang sebagai sarana mengamalkan ilmu beliau. Di ceritakan karena begitu cintanya sang imam akan menghafal suatu ilmu, ketika sang imam akan wafat beliau masih menyempatkan waktu untuk menghafal 8 ba’it dari ilmu tata bahasa Arab. Dan sebagai suri tauladan adab beliau adalah ketika beliau mengarang kitab Alfiyyah tidak berani menyelesaikannya sebelum mendapat izin dari guru beliau yaitu imam Ibnu Mu’thi.

Diceritakan semasa Ibnu Malik mengarang Alfiyah dan baru sampai pada nadzam ????? ????? ??? ???? Beliau mengalami kesusahan. Hingga beliau tidak mampu lagi untuk melanjutkan kitab yang akan dikarangnya, bait-bait Alfiyah yang sebelumnya telah tersusun dalam pikiran beliau seakan-akan sirna begitu saja tanpa bekas dan sebab yang dimengertinya. Setelah beberapa hari kemudian dalam sebuah tidurnya beliau bermimpi bertemu dengan seseorang yang tak dikenalnya, dalam mimpinya tersebut terjadi dialog antara orang tadi dengan Ibnu Malik “Wahai Ibnu Malik, saya mendengar bahwa kamu telah mengarang kitab Alfiyah yang menerangkan ilmu Nahwu, apakah itu benar?” Ya jawabnya. “sampai dimanakah kamu mengarang kitab tersebut?” Beliau mejawabnya “Sampai batas nadzam ????? ????? ??? ???? “ “Mengapa kamu tidak melanjutkannya?” “Semenjak hari itu saya tidak mampu meneruskan lagi”. “Apakah kamu ingin melanjutkannya?”. “Sudah barang tentu saya ingin melanjutkan karangan tersebut” jawabnya. “Apakah orang yang masih hidup mampu mengalahkan seribu orang mati” (menyindir imam Ibnu Malik yang merasa karangan nya lebih baik dari pada karangan gurunya yaitu imam Ibnu Mu”thi yang sudah wafat). Mendengar jawaban ini Ibnu Malik merasa kaget. Dan saat itulah beliau tersadar dari apa yang ia ucapkan dalam salah satu bait yang dikarangnya lebih mengunggulkan kitab Alfiyah hasil karyanya ketimbang kitab Alfiyah hasil karya gurunya Ibnu Mukti. Secara spontanitas beliau bertanya “Apakah tuan yang bernama Ibnu Mukti?”. Orang tersebut menganggukkan kepala. Seketika itu juga Ibnu Malik merasa malu kepada sang guru dan pada keesokan harinya beliau kemudian meralat dengan lafadz lain yang ditujukan untuk memuji Ibnu Mukti dangan kalimat ??? ???? ???? ?????? ?????? ????? ??????? “Beliau adalah orang lebih pantas untuk mendapatkan pujian dari saya”. Setelah itu beliau mampu meneruskan karangan beliau hingga sempurna.

Itulah sekelumit cerita atau kisah yang dialami imam Ibnu Malik sewaktu mengarang kitab Alfiyah. Dari situ kita bisa mengambil hikmah yang besar tentang pentingnya tawadlu’ dan ta’dhim pada guru-guru kita, meskipun ilmu yang kita miliki suatu saat mungkin melebihi beliau.

Sekedar mengingatkan dan tabarrukan pada guru-guru yang pernah mengajar Alfiyah di MAS Simbangkulon yang penulis ketahui adalah diantaranya: KH. Hudlori Tabri (alm), KH. M. Ilyas Jaza (alm), K. Anas Malik (alm), KH. Abdul Shomad Fadlun, KH. Abdul Hanan, K. Shodiqin, K. Anwar Fatoni, K. Qomarudin, K. Rodli. Mereka adalah orang-orang alim, ikhlas yang memiliki sanad Alfiyah sampai pada pengarangnya imam Ibnu Malik. Dan Alhamdulillah bi Taufiqillah penulis pernah diberi amanat untuk muthala’ah bersama siswa-siswi MAS Simbangkulon tentang Alfiyah.

  1. Mengenal Alfiyah Ibnu Malik

Imam Ibnu Malik adalah sosok orang yang sangat alim (‘allamah) dalam berbagai disiplin ilmu pengetahuan terutama dalam ilmu tata bahasa Arab, sehingga beliau banyak menuangkan pemikiran-pemikiran beliau dalam bentuk kitab-kitab karangan beliau sendiri.

Di antara karangan imam Ibnu Malik yang populer adalah:

  1. Alfiyah Ibnu Malik (juga dinamakan Khulashoh).
  2. Al-Kamalul Umdah dan syarahnya.
  3. Al-Kafiyah dan syarahnya.
  4. At-Tashil dan syarahnya.
  5. Fawa'id Nahwawiyah wal Maqosid Nahwiyah.
  6. At-Taudlih.
  7. Al-Qasidah At-Thoiyah.
  8. Al-A'lam.
  9. Lamiyatul Af'al.
  10. Tashilul Fawaid.

Nadzom kitab Alfiyah Ibnu Malik merupakan ringkasan (khulasah) dari kitab nadzom al-Kafiyah al-Syafiyah karya imam Ibnu Hajib (w. 646 H/ 1249 M) yang terdiri dari 2757 bait. Kitab ini menyajikan semua informasi tentang Ilmu Nahwu dan Shorof yang diikuti dengan komentar (syarah). Kemudian kitab ini oleh Ibnu Malik diringkas menjadi seribu bait ditambah dua nadzam penutup, yang kini lebih di kenal dengan nama Alfiyah Ibnu Malik.

Kitab ini terdiri dari delapan puluh (80) bab, dan setiap bab diisi oleh beberapa bait nadzom. Bab yang terpendek hanya mencakup dua bait seperti bab Ikhtishash, adapun bab yang terpanjang adalah Jama’ Taktsir, karena berisi empat puluh dua bait nadzom. Di dalam muqaddimahnya, imam Ibnu Malik menyebutkan bahwa beliau dalam mengarang kitab Alfiyah memakai Bahar (irama) Rojaz.

Secara ringkas kitab Alfiyah Ibnu Malik mencakup beberapa hal sebagaimana disebut dalam muqaddimahnya, yaitu:

  1. Menghimpun semua permasalahan nahwu dan shorof yang dianggap penting.
  2. Menerangkan hal-hal yang rumit tentang nahwu-sharaf dengan bahasa yang singkat dan mudah difahami.
  3. Memberi jaminan pemahaman dan membangkitkan perasaan senang bagi orang yang ingin mempelajari isinya.

Dalam kitab Kasyf al-Zhunun disebutkan, bahwa ulama yang menulis syarah Alfiyah berjumlah lebih dari empat puluh orang. Mereka ada yang menulis dengan panjang lebar, dan ada yang singkat (mukhtashar), dan ada pula ulama yang tulisannya belum selesai. Di sela-sela itu muncullah beberapa kreasi baru dari beberapa ulama yang memberikan catatan pinggir (hasyiyah) terhadap kitab-kitab syarah. Syarah Alfiyah Ibnu Malik pertama kali ditulis oleh putera beliau sendiri yaitu Muhammad Badruddin bin Muhammad bin Abdullah bin Malik (w. 686 H). Di antara penulis-penulis syarah Alfiyah Ibnu Malik lainnya adalah Al-Muradi (w. 749 H), Ibn Hisyam (w.761 H), Ibnu Aqil (w. 769 H), dan Al-Asymuni (w. 929 H), Ibn Jama’ah (w.819 H), Al-‘Ainy (w.855 H), Zakaria al-Anshariy (w.191 H), Al-Sayuthi (w.911 H), Ibn Qasim al-Abbadi (w.994 H), dan Taqiyuddin ibn Abdul Qadir at-Tamimiy (w.1005 H) dan lain-lain.

  1. Ikhtitam

Ibnu Malik adalah ulama besar, kini beliau telah meninggalkan kita, beliau wafat pada malam Rabu tanggal 12 Sya’ban 672 H dalam umur 75 tahun. Tapi namanya sampai sat ini masih kita sebut dan kita kenang, serta hasil karyanya pun masih kita geluti dan pelajari. Beliau seakan-akan masih hidup ditengah-tengah kita. Dan marilah kita do’akan semoga Allah Swt menerima jasa beliau dan guru-guru kita semuanya. Amin Ya Rabbal ‘Alamien…Wallah ‘Alam Bi Showab.




Write a Facebook Comment

Komentar dari Facebook

View all comments

Write a comment